GELAR BINTANG MAHAPUTRA ADIPURNA KEPADA RAJA MALAYSIA

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai tak sensitif dengan suasana hati rakyatnya, dengan memberikan Bintang Mahaputra Adipurna kepada Raja Malaysia, Yang Dipertuan Agong XIII

RONNEY HARUS BERANGKAT?

Rooney akan absen karena hukuman skors, sebagai konsekuensi kartu merah yang diterimanya pada laga kualifikasi Piala Eropa melawan Montenegro, 7 Oktober silam.

JUPE TIDAK DIPENJARA

Menurut Jupe, vonis 3 bulan penjara dengan masa percobaan 6 bulan membuat banyak orang mengira dirinya benar-benar menjalani hukuman di balik jeruji besi

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

GONZALO HIGUAIN CETAK HAT-TRICK

Tiga poin dari kemenangan ini mengantar Madrid naik ke puncak klasemen sementara dengan poin 16, unggul dua poin atas Barcelona yang sebelumnya bertakhta di posisi teratas. Skuad besutan Jose Mourinho bisa kembali turun andai The Catalans bisa menang atas Racing Santander dalam laga yang akan digelar beberapa jam mendatang..

Tampilkan postingan dengan label PERBURUHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERBURUHAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Oktober 2011

TUTI DIJADIKAN BUDAK SEKS, KINI TERANCAM DIPANCUNG

ARAB SAUDI  – Mata pria ini sayu berkaca-kaca. Ia
seorang buruh tani. Datang jauh dari Desa Cikeusik, Majalengka Jawa
Barat, Kamis 13 Oktober 2011, berjam-jam ia di Kementerian Luar Negeri
Jakarta. Warjuki, begitu nama pria paruh baya ini, meminta bantuan atas
nasib anaknya, Tuti Tursilawati. "Selamatkan anak saya dari hukum
gantung," katanya dengan suara bergetar.

Sang anak, yang mengantang nasib di Arab Saudi menjadi pembantu rumah
tangga itu, kini di pintu kematian. Ia sudah masuk dalam daftar tunggu
siap dipenggal Algojo Arab Saudi. Wanita pendiam ini dijatuhi hukuman
mati alias qhisas atas perbuatannya membunuh majikan pria.

Dan hari kematian itu sudah ditentukan. Tinggal menghitung hari.
Keluarga korban yang bersikeras tidak memberi ampun dan menolak diyat
atau ‘uang darah’,  menuntut Tuti segera dieksekusi usai musim haji
tahun ini, atau sekitar 6 November 2011 mendatang.

Menurut Warjuki, putrinya tak tahu ancaman eksekusi pancung itu. “Di
sana dia tidak tahu bahwa akan dipancung. Dia tidak akan tahu, yang tahu
keluarga di Indonesia saja," ungkap Warjuki, dengan mata sendu.

Duka dan bingung juga dirasakan sang ibu, Iti Sarmini. Kabar putrinya
bakal dipancung bagai petir di siang bolong. Sama seperti Warjuki, Iti
juga sudah memutuskan bahwa kegelisahan dan tangis keluarga di
Majalengka tidak ditularkan kepada Tuti yang sedang mendekam di penjara
Kota Thaif.  "Ayahnya cuma tanya kabar. Tidak tanya bagaimana hukuman.
Takut dia nggak kuat terima omongan dari bapaknya," kisah Iti sembari
menangis.

Iti mengaku memendam rindu pada putrinya. "Terakhir ketemu ya dulu,
waktu berangkat saja, sampai sekarang belum ketemu lagi. Sudah sekitar 2
tahun 1 bulan,"katanya. Putra semata wayang Tuti juga belum mengetahui
nasib tragis yang mengancam ibunya. "Dia belum tahu ibunya dimana atau
bagaimana, karena dia masih kecil, belum tahu apa-apa," kata Iti. Kini
baik Warjuki, maupun Iti hanya bisa berharap pada pemerintah.

Lalu, bagaimana jawaban Menlu? "Pak Menlu siap untuk menyelamatkan.
Pak Menlu akan berjuang semaksimal mungkin, tapi semua tergantung dari
keluarga Arab Saudi," kata Warjuki. Meski mengaku puas dengan jawaban
Menlu, namun Warjuki mengatakan tidak ada janji dari pemerintah, soal
pembayaran denda agar Tuti terbebas dari hukuman pancung.



Sebelumnya,
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan pemerintah terus
berupaya agar Tuti memperoleh keringanan hukuman. "Pihak Konjen kita dan
Dubes sudah mengadakan pertemuan dengan Gubernur Mekah. Intinya meminta
memfasilitasi pemaafan dari pihak keluarga. Karena kalau sudah titik
seperti ini, sesuatu yang bisa ditunda atau dikurangi hukuman itu adalah
pemaafan dari keluarga," ujar Marty di DPR RI, Jakarta, Rabu 12 Oktober
2011.



Diperkosa majikan dan 9 pria bejat

Keputusan Turi mengais rejeki di negeri orang, Arab Saudi mengikuti
langkah orang tuanya. Warjuki pernah menjadi supir di negeri 'petro dolar' itu. Sementara Iti bekerja sebagai pembantu.

Warjuki menceritakan, Tuti mulai bekerja di Arab Saudi tahun 2009
lalu. Tugasnya, mengurus orang jompo di keluarga majikannya. Dua bulan
pertama, ia mengaku betah. Pada November 2009, ia menelepon rumah,
mengaku sehat dan dalam kondisi

baik.



Namun, tiga bulan
kemudian, Tuti kembali menelepon, mengaku lelah dan ingin kabur. Sekitar
Mei 2010, Tuti menelpon ke orangtuanya dan mengatakan akan mengirim
uang. Namun, uang tersebut tak pernah sampai.



Meski membuat
nyawa majikan melayang, menurut orang tuanya, Tuti tidak bermaksud
membunuh. Ia hanya membela diri atas kekerasan seksual yang dilakukan
sang majikan. "Perlawanan inilah yang menyebabkan majikannya terbunuh."
Setiap kali Tuti melaksanakan tugas, majikan lelakinya selalu
menggeranyang. "Mencium, bahkan memperkosanya saat bekerja."



Lalu
terjadilah malapetaka itu. Pada Selasa 11 Mei 2010, Tuti memukul
majikannya itu dengan kayu, menghindari pemerkosaan. Ia mengikat kaki
dan tangan pria tersebut, juga menutup matanya. Saat itu dia belum
meninggal. "Kabar menyebutkan bahwa majikannya itu baru meninggal 3 jam
kemudian di rumah sakit," demikian pengakuan Tuti pada rekannya,
Rohidin.



Setelah memukul majikannya, Tuti lari, membawa uang
gaji senilai 31.500 real Saudi dan sebuah jam tangan dari rumah keluarga
majikannya itu. Dalam pelariannya, ia dihampiri oleh seorang laki-laki
asli Arab Saudi yang mengendarai mobil sedan berwarna putih. Singkat
cerita, ia yang sedang panik memutuskan ikut karena dijanjikan diantar
sampai Mekkah.



"Tapi dalam perjalanan orang tersebut bukannya
mengantarkan Tuti ke Mekah tapi malah membawa dan menaruh Tuti di rumah
kosong. Kemudian orang tersebut menjemput 8 orang temannya."



Nestapa
itu kembali menimpa Tuti. "Tuti diperkosa secara bergantian hingga
waktu subuh tiba. Setelah 9 orang ini memperkosa, Tuti baru diantar ke
Mekkah dan diturunkan di dekat Masjidil Haram, kemudian 9 orang tersebut
langsung pergi dengan membawa tasnya." Kini, keluarga Tuti hanya bisa
berharap bantuan pemerintah untuk merayu keluarga korban. "Tinggal satu
lagi yang belum terima dan memaafkan Tuti yaitu yang bernama Naif
Al-Otaeibi."

Presiden diminta turun tangan

Wakil Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Ramses D
Aruan, meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan dan bicara
terkait vonis hukuman pancung, yang mengancam nyawa pekerja Indonesia
di Arab Saudi, Tuti Tursilawati.



"Pemerintah harus kuat. Presiden
harus turun tangan dan bicara soal itu. Tidak bisa hanya sekelas
Menteri atau Satgas. Ini bukan hanya persoalan Kemenlu dan Satgas, tapi
persoalan bangsa, dan Presiden harus bicara," ujarnya di Gedung Kemenlu,
Jakarta Pusat, Kamis, 13 Oktober 2011.



Keringanan hukuman untuk
Tuti saat ini terhalang maaf keluarga sang majikan.  Menurut Ramses,
kendala itu bisa diatasi. Caranya, Presiden bisa menghubungi keluarga
korban lewat Raja Arab Saudi. Kata dia, mungkin dengan itu keluarga bisa
memaafkan dan membatalkan hukuman pancung terhadap Tuti. "Itu sudah
dilakukan oleh Gus Dur. Tapi itu belum dilakukan sekarang, nggak tahu
kenapa," kata dia.  Pemerintah juga diharapkan bisa menfasilitasi agar
keluarga Tuti bisa meminta maaf kepada keluarga korban di Arab Saudi.



Sementara
di Senayan, nasib Tuti juga jadi perhatian para wakil rakyat. Wakil
Ketua DPR Taufik Kurniawan mengatakan DPR akan membantu pemerintah
memintakan pengampunan baginya.



Taufik mengatakan, tim khusus TKI
yang dipimpinnya sudah menyepakati, DPR mengirim surat pada parlemen
Arab untuk memintakan pengampunan dari keluarga korban pembunuhan, atau
majikan Tuti. "Surat resmi dari DPR itu akan disampaikan pada parlemen
sana atau dewan syuro, yang dijadikan bahan pertimbangan disampaikan
pada Raja Arab Saudi," kata Taufik di DPR, Kamis 13 Oktober 2011.



Menurut
dia, sebenarnya upaya pemerintah telah maksimal. Namun, persoalan ada
di hilir. Yakni, pengampunan dari keluarga majikan. "Ini dari hasil
rapat kemarin, posisi dari Raja Arab sudah membantu pengampunan itu tapi
masalahnya keluarga sana belum mau berikan pengampunan. Dari kerajaan
saudi pun sudah ajukan permintaan pengampunan dari keluarga sana. “

26 WNI menanti pancung

Tak hanya Tuti yang terancam pancung. Wakil Ketua Umum Serikat Buruh
Migran Indonesia (SBMI), Ramses D Aruan mengatakan ada 41 orang warga
negara Indonesia yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. Dari jumlah
itu, 26 orang segera dieksekusi oleh pengadilan setempat.



"Sudah
vonis semua. Tuti adalah salah satu WNI yang benar-benar dalam posisi
kritis dan akan sangat sulit diselamatkan," kata Ramses.



Menutut
data SBMI, lanjut Ramses, sejak tahun 1999 hingga 2011 sudah ada 303
buruh migran Indonesia yang terancam hukuman mati di luar negeri.
"Sampai saat ini, belum ada informasi tertulis yang didapatkan oleh
keluarga mengenai upaya penyelamatan yang dilakukan oleh BNP2TKI,
Kemenlu, Kemenakertrans, dan Satgas Hukuman Mati," kata dia.



Berdasarkan
temuan SBMI, lanjut Ramses, pada Juli 2011, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono telah mengirim surat kepada Raja Saudi, Malik Abdullah Bin
Abdul Aziz terkait hukuman mati WNI. Isi surat itu tentang permintaan
pengampunan kepada empat orang TKW yang dipidana mati atas tuduhan
sihir. Keempat WNI itu adalah Warnah Bin Warta Niing, Sumartini Binti
Manaungi Galisung, Aminah Binti H. Budi, dan Darmawati Binti Tarjani.
(sumber :vivanews)

Selasa, 11 Oktober 2011

DEMO BURUH FREEPORT : AROGANSI VS AMUK DEMONSTRANS, 1 TEWAS

Mimika.
Ribuan karyawan PT Freeport Indonesia kembali menggelar demonstrasi di areal Tambang Tembagapura, Senin, 10 Oktober 2011. Tuntutan mereka masih sama dengan aksi digelar mulai 4 Juli dan 15 September 2011 lalu: kenaikan upah. Mereka juga ingin bertemu pihak manajemen, mengajukan perpanjangan unjuk rasa.

Pada aksi pagi hari itu, turut bergabung juga ratusan demonstran yang berasal dari tujuh suku di sekitar areal pertambangan perusahaan Amerika Serikat itu. Mereka menuntut bertemu CEO Freeport, memperjuangkan apa yang mereka sebut hak ulayat, hak warga asli Papua atas tanah itu. Massa melakukan long march ke Terminal Gorong-gorong. Namun, niat mereka memasuki terminal keberangkatan bus PT Freeport dihalangi aparat. Massa yang tak menyerah mendesak masuk.

Pada pukul 10.00 WIT bentrok pecah di depan terminal. Aparat keamanan menghalau barisan dengan mengeluarkan tembakan peringatan ke arah demonstran. Namun, peluru aparat justru melukai sejumlah orang. Satu di antaranya tewas. Versi karyawan, tembakan aparat keamanan menjadi pemicu rusuh.Demonstran yang marah pun membalas membakar tiga kontainer milik PT Freeport.

Salah seorang pengurus SPSI PT Freeport pimpinan Sudiro, Frans Wonmaly menjelaskan, rusuh bermula ketika ribuan karyawan yang sejak 15 September lalu menggelar aksi mogok kerja, hendak naik menuju areal tambang di Tembagapura melalui terminal Gorong-gorong. Namun, pihak manajemen Freeport dibantu aparat kepolisian menghadang. "Karyawan yang hendak naik ini, adalah pemilik ulayat areal tambang. Tujuan naik untuk menutup Freeport karena hingga saat ini manajemen tidak mau berunding. Lantas, saat menuju terminal bus Freeport, mereka dihadang dan kemudian ditembaki aparat," ujarnya.

Empat karyawan tertembak, dan segera dilarikan ke rumah sakit. Namun, setengah jam kemudian nyawa salah satu karyawan bernama Piter Ayami Seba tidak tertolong. "Ia tewas akibat tembakan di bagian dada," ujarnya. Sementara, juru Bicara SPSI Freeport pimpinan Sudiro, Juli Parongrongan mengaku tak tahu motif penembakan oleh aparat keamanan ke arah rekan-rekannya. "Kami tidak memprovokasi, tapi tiba-tiba manajemen mengerahkan polisi yang mengeluarkan tembakan, dan sejumlah rekan kami kemudian tersungkur," kata Juli. Jenazah Piter, karyawan bagian catering Freeport yang tewas itu diarak sepanjang 3 kilometer menuju kantor DPRD Mimika. “Sebagai bukti arogansi Freeport,’’ ujarnya.

Amuk demonstran

Juru Bicara Polda Papua, Kombes Wachyono mengatakan, bentrok terjadi dipicu ulah pendemo yang mengamuk dan membakar tiga mobil milik Freeport yang diparkir di lokasi. "Selain membakar kendaraan, para pendemo juga melempari polisi yang saat itu melakukan tugas pengamanan. Akibatnya, tujuh anggota polisi terkena lemparan batu," ungkapnya. Karena massa sudah tak terkendali, polisi kemudian mengeluarkan tembakan peringatan, tapi juga tak diindahkan, sehingga mengeluarkan tembakan melumpuhkan. "Ada dua dari pendemo yang terkena tembakan," ucapnya.

Sementara, juru bicara PT Freeport Indonesia, Ramdani Sirait mengatakan, penembakan berawal dari adanya sejumlah karyawan yang berdemo dari sekretariat Serikat Pekerja PT Freeport di Timika menuju terminal Gorong-gorong. "Mereka bermaksud mengganggu keberangkatan karyawan lain yang akan bekerja," kata dia dalam surat elektronik.

Kelompok itu berusaha masuk ke terminal, namun tidak diperbolehkan oleh polisi. Pihak keamanan dan polisi langsung memblokir akses, namun demo malah semakin agresif dan brutal, sehingga petugas mengeluarkan senjata. "Insiden tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dan beberapa karyawan dan petugas kepolisian cedera," katanya. "Semua sedang dirawat di klinik dan rumah sakit setempat."

Freeport mengatakan akan menindak tegas karyawan yang memicu bentrok. “Para individu yang bertanggung jawab atas tindakan agresif yang ilegal ini harus bertanggung jawab atas tindakan mereka,” Ramdani menambahkan. Satu polisi kritis, wartawan dianiaya Juru Bicara Polda Papua, Kombes Wachyono meralat pernyataan yang diberikannya pada Senin malam bahwa salah seorang anggota polisi tewas dalam aksi massa itu.

Seperti diberitakan Senin kemarin, Brimob Briptu Jamil tewas, setelah dikeroyok para karyawan Freeport yang melakukan aksi demo di Gorong-gorong Timika Papua. ‘’Saya sudah memarahi anggota di lapangan yang memberikan informasi, Briptu Jamil tewas akibat dikeroyok. Ternyata info itu salah. Dia masih hidup namun kondisinya kritis akibat lukanya cukup parah. Saat ini masih dirawat di rumah Sakit Timika,’’ ujar Wachyono melalui telepon selulernya, Selasa 11 Oktober.

Pada Senin petang kemarin, Wachyono mengatakan Briptu Jamil dikeroyok saat mengamankan jalannya aksi demo ribuan karyawan Freeport, yang sudah menggelar aksi mogok kerja sejak 15 September lalu. ‘’Ia tiba-tiba dikeroyok, lalu dibuang ke sungai di sekitar lokasi tepat dibawah tjembatan terminal Freeport, dan baru ditemukan beberapa saaat kemudian,’’ ujarnya. Saat ini, perawatan secara intesif masih dilakukan terhadap Briptu Jamil. ‘’Saya minta maaf, telah memberikan informasi yang salah,’’ dia menambahkan. Briptu Jamil, adalah anggota Resmob Satuan Por 2 Den D Brimob Mabes Polri. Para wartawan yang sedang melakukan tugas jurnalistik juga ikut mengalami kekerasan.

Dua jurnalis, dari Cahaya Papua, Duma Tato Sanda dan wartawan Radar Timika, Syahrul babak belur dianiaya para pekerja yang demo. Kamera, telepon genggam, juga sepeda motor mereka dirampas. “Mereka tiba-tiba memukul saya, juga menarik paksa kamera, kemudian motor dirampas,” kata Duma. Pemukulan terjadi ketika mereka meliput pembakaran tiga buah truk milik Freeport.

Pekerja mengamuk setelah tersiar kabar seorang rekannya meninggal tertembak saat unjuk rasa berlangsung. “Saya sudah bilang saya wartawan, tapi mereka terus memukul, saya lari tapi masih dilempari dengan batu, untung ada orang yang datang menyelamatkan pakai motor, kalau tidak saya bisa mati karena dipukul banyak orang,” kata dia. Duma yang dipukul nyaris pingsan. Ia menyesal berada dalam situasi buruk tersebut. “Dalam pelarian itu saya dibuntuti sekitar sepuluh orang. Sandal yang saya pakai terlepas. Beberapa dari mereka melempar saya dengan batu,” ujarnya.

Duma mendapat luka disekujur tubuh. Ia mengenali ciri-ciri pelaku yang memukulnya, bertubuh besar dan berambut ikal. “Saat visum, ditemukan memar dan pembengkakan di tulang pipi, luka di bibir atas, lidah terluka, pembengkakan dan memar di punggung kanan, pinggang kiri dan dada kanan. Ditemukan juga luka di tiga jari kaki kanan,” dia menguraikan. Ia berharap pelaku diproses hukum, dan barangnya dikembalikan. “Saya tak terima pemukulan ini, mereka karyawan harus dihukum, saya sudah laporkan ini ke polisi.”

Dimintai tanggapan, juru bicara serikat pekerja, Julius Parorongan menandaskan akan memanggil karyawan yang berbuat ulah. “Saya akan cek, ini memang keterlaluan. Saya tak sangka pekerja bisa se-anarkis ini. Usai ada yang ditembak tadi, karyawan memang mulai susah diatur,” ujarnya. (np) *Artikel ini dilengkapi pada Selasa 11 Oktober 2011 untuk mengkoreksi pernyataan Polda Papua sebelumnya yang menyebutkan seorang anggota Brimob tewas.